Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan
pada prasasti Kedukan Bukit yang diketemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat
Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan
sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya
Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai
tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu
pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang.
Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke
Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik. Sewaktu pasukan
Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya
pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga
membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand
bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang
Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti
namanya menjadi Sultan Iskandar Shah.
Secara teratur, sebelum masa NKRI pertumbuhan Kota Palembang dapat
dibagi menjadi beberapa fase utama:
Merupakan zaman kegelapan, karena
mengingat Palembang telah ada jauh sebelum bala tentara Sriwijaya membangun
sebuah kota dan penduduk asli daerah ini seperti yang tertulis pada manuskrip
lama di hulu Sungai Musi merupakan penduduk dari daerah hulu Sungai Komering.
Palembang menjadi pusat dari
kerajaan yang membentang mulai dari barat pulau jawa, sepanjang pulau sumatera,
semenanjung malaka, bagian barat kalimantan sampai ke indochina. Runtuhnya
Sriwijaya sendiri utamanya karena penyerbuan bangsa-bangsa pelaut ‘yang tidak
terdefinisikan’, sebagian sejarahwan mengatakan bahwa mereka adalah pasukan
barbar laut dari Srilanka (Ceylon). Akibat hancurnya kekuatan maritim mereka,
Sriwijaya menjadi lemah dan persekutuan daerah-daerah kekuasaanya terlepas dan
ketika datangnya Ekspedisi Pamalayu dari Jawa (majapahit) ke jambi dalam
melakukan isolasi kepada Palembang, untuk mencegah Sriwijaya bangkit kembali.
Di sekitar Palembang dan sekitarnya
kemudian bermunculan kekuatan-kekuatan lokal seperti Panglima Bagus Kuning di
hilir Sungai Musi, Si Gentar Alam di daerah Perbukitan, Tuan Bosai dan
Junjungan Kuat di daerah hulu Sungai Komering, Panglima Gumay di sepanjang
Bukit Barisan dan sebagainya. Pada fase inilah Parameswara yang mendirikan
Tumasik (Singapura) dan Kerajaan Malaka hidup, dan pada fase inilah juga
terjadi kontak fisik secara langsung dengan para pengembara dari Arab dan
Gujarat.
Hancurnya Majapahit di Jawa secara
tidak langsung memberikan andil pada kekuatan lama hasil dari Ekspedisi
Pamalayu di Sumatera. Beberapa tokoh penting di balik hancurnya Majapahit
seperti Raden Patah, Ario Dillah (Ario Damar) dan Pati Unus merupakan
tokoh-tokoh yang erat kaitanya dengan Palembang. Setelah Kesultanan Demak yang
merupakan 'pengganti' dari Majapahit di Jawa berdiri, di Palembang tak lama
kemudian berdiri pula 'Kesultanan Palembang Darussalam' dengan 'Susuhunan
Abddurrahaman Khalifatul Mukmiminin Sayyidul Iman' sebagai raja pertamanya.
Kerajaan ini mengawinkan dua kebudayaan, maritim peninggalan dari Sriwijaya dan
agraris dari Majapahit dan menjadi pusat perdagangan yang paling besar di
Semenanjung Malaka pada masanya. Salah satu raja yang paling terkenal pada masa
ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin II yang sempat menang tiga kali pada
pertempuran melawan Eropa (Belanda dan Inggris).
Setelah jatuhnya Kesultanan Palembang Darussalam pasca kalahnya
Sultan Mahmud Badaruddin II pada pertempuran yang keempat melawan Belanda yang
pada saat ini turun dengan kekuatan besar pimpinan Jendral de Kock, maka Palembang nyaris menjadi
kerajaan bawahan. Beberapa Sultan setelah Sultan Mahmud Badaruddin II yang
menyatakan menyerah kepada Belanda berusaha untuk memberontak tetapi kesemuanya
gagal dan berakhir dengan pembumihangusan bangunan kesultanan untuk
menghilangkan simbol-simbol kesultanan. Setelah itu Palembang dibagi menjadi
dua keresidenan besar, dan pemukiman di Palembang dibagi menjadi daerah Ilir
dan Ulu
Penduduk
Palembang merupakan cabang dari masyarakat melayu, dan menggunakan bahasa
melayu sebagai bahasa sehari-hari, namun para pendatang daerah seringkali
menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa sehari-hari, seperti bahasa
komering, rawas, lahat, dsb. Pendatang dari luar Sumatera Selatan terkadang
juga menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa sehari-hari dalam keluarga
atau komunitas kedaerahan, seperti pendatang dari Pulau Jawa dan daerah-daerah
lain di Indonesia. Namun untuk berkomunikasi dengan warga Palembang lain,
penduduk umumnya menggunakan Bahasa Palembang sebagai bahasa pengantar
sehari-hari.
Selain penduduk Palembang asli, di Palembang terdapat pula warga
pendatang dan warga keturunan, warga pendatang seperti dari Pulau Jawa, Madura,
Sulawesi (Makassar dan Manado), Papua, Wilayah Sumatera Lainnya. Warga
Keturunan terutama Tionghoa, Arab dan India.
Kesenian
yang terdapat di Palembang antara lain:
·
Kesenian Dul Muluk
(semacam pentas drama)
·
Tari-tarian seperti
Gending Sriwijaya yang diadakan sebagai penyambutan kepada tamu-tamu, dan tari
Tanggai yang diperagakan dalam resepsi pernikahan
·
Lagu Daerah seperti Cuk
Mak Ilang
Rumah Adat Palembang adalah Rumah Limas dan Rumah Rakit
Kota
Palembang mengadakan berbagai festival setiap tahunnya antara lain Festival
Sriwijaya setiap bulan Juni memperingati Hari Jadi Kota Palembang, Festival
Bidar dan Perahu Hias merayakan Hari Kemerdekaan. Serta berbagai festival
memperingati Tahun Baru Hijriah, Bulan Ramadhan, Tahun Baru Masehi, dsb.
Kota
Palembang memiliki beberapa wilayah yang menjadi ciri khas dari suatu komunitas
seperti Kampung Kapitan yang merupakan wilayah Komunitas Tionghoa dan Kampung
Al Munawwar yang merupakan wilayah Komunitas Arab.
Kota Palembang juga dipercayai oleh
masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat
turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara
yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang
bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada
Tumasik. Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura,
Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan
mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di
daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan).
Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan
Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya
menjadi Sultan Iskandar Syah.
Berbicara mengenai asal
usul kota Palembang, memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan
kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadikan kota Palembang sebagai
ibukotanya. Kejayaan Sriwijaya seolah-olah diturunkan kepada Kesultanan
Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani
dikawasan Nusantara. Palembang pernah berfungsi sebagai pusat kerajaan
Sriwijaya dari abad ke-7 (tahun 683 Masehi) hingga sekitar abad ke-12 di bawah
Wangsa Sailendra/Turunan Dapunta Salendra dengan Bala Putra Dewa
sebagai Raja Pertama.
BAB
II
Adat perkawinan Palembang adalah suatu
pranata yang dilaksanakan berdasarkan budaya dan aturan Palembang. Melihat adat
perkawinan Palembang, jelas terlihat bahwa busana dan ritual adatnya
mewariskan keagungan serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalami
keemasan berpengaruh di Semananjung Melayu berabad silam. Pada zaman kesultanan
Palembang berdiri sekitar abad 16 lama berselang setelah runtuhnya
dinasti Sriwijaya, dan pasca Kesultanan pada dasarnya perkawinan ditentukan
oleh keluarga besar dengan pertimbangan bobot, bibit dan bebet.
Pada masa
sekarang ini perkawinan banyak ditentukan oleh kedua pasang calon mempelai
pengantin itu sendiri. Untuk memperkaya pemahaman dan persiapan pernikahan,
berikut ini
uraian tata cara dan pranata yang berkaitan
dengan perkawinan Palembang
Calon
dapat diajukan oleh si anak yang akan dikawinkan, dapat juga diajukan oleh
orang tuannya. Bila dicalonkan oleh orang tua, maka mereka akan
menginventariskan dulu siapa-siapa yang akan dicalonkan, anak siapa dan
keturunan dari keluarga siapa.
Madik
Berasal dari kata bahasa Jawa Kawi yang berarti mendekat atau pendekatan.
Madik adalah suatu proses penyelidikan atas seorang gadis yang dilakukan oleh
utusan pihak keluarga pria.Tujuannya untuk perkenalan, mengetahui asal usul
serta silsilah keluarga masing-masing serta melihat apakah gadis tersebut belum
ada yang meminang.
Menyengguk
atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang
"pagar" agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa
musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain). Menyengguk dilakukan
apabila proses Madik berhasil dengan baik, untuk menunjukkan keseriusan,
keluarga besar pria mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis.Utusan
tersebut membawa tenong atau sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat
atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan, dapat juga
berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si
gadis.
2.4
Ngebet
![]() |
2.6
Mutuske kato
Acara ini bertujuan
kedua pihak keluarga membuat keputusan dalam hal yang berkaitan
dengan:"hari ngantarke belanjo" hari pernikahan, saat Munggah,
Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon, Becacap atau Mandi Simburan dan
Beratib. Untuk menentukan hari pernikahandan acara Munggah, lazim dipilih
bulan-bulan Islam yang dipercaya memberi barokah bagi kedua mempelai kelak
yakni bulan Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadilawal, Jumadilakhir. Bulan-bulan
tersebut konon dipercayah bahwa bulan purnama sedang cantik-cantiknya menyinari
bumi sehingga cahayanya akan menjadi penerang kehidupan bagi kedua mempelai
secerah purnama. Saat 'mutuske kato' rombongan keluarga pria mendatangi
kediaman pihak wanita dimana pada saat itu pihak pria membawa 7 tenong yang antara lain berisi gula pasir,
terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan. Selain membuat keputusan tersebut,
pihak pria juga memberikan (menyerahkan) persyaratan adat yang telah disepakati
saat acara berasan. sebagai contohnya, bila sepakat persyaratan adat Duo
Penyeneng, maka pihak pria pada saat mutoske kato menyerahkan pada pihak gadis
dua lembar kemben tretes mider, dua lembar baju kurung angkinan dan dua lembar
sewet songket cukitan. Berakhirnya acara mutuske kato ditutup dengan doa
keselamatan dan permohonan pada Allah SWT agar pelaksanaan perkawinan berjalan
lancar. Disusul acara sujud calon pengantin wanita pada calon mertua, dimana
calon mertua memberikan emas pada calon mempelai wanita sebagai tanda kasihnya.
Menjelang
pulang 7 tenong pihak pria ditukar oleh pihak wanita dengan isian jajanan khas
Palembang untuk dibawa pulang.
Prosesi nganterke
belanjo biasanya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari
sebelum acara Munggah. Prosesi ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita,
sedangkan kaum pria hanya mengiringi saja. Uang belanja (duit belanjo)
dimasukan dalam ponjen warna kuning dengan atribut pengiringnya berbentuk
manggis. Hantaran dari pihak calon mempelai pria ini juga dilengkapi dengan
nampan-nampan paling sedikit 12 buah berisi aneka keperluan pesta, antara lain
berupa terigu, gula, buah-buahan kaleng, hingga kue-kue dan jajanan.
Lebih dari itu diantar pula'enjukan' atau permintaan yang telah ditetapkan saat
mutuske kato, yakni berupa salah satu syarat adat pelaksanaan perkawinan sesuai
kesepakatan.
Bentuk gegawaan yang
juga disebut masyarakat Palembang 'adat ngelamar' dari pihak pria (sesuai
dengan kesepakatan) kepada pihak wanita berupa sebuah ponjen warna kuning
berisi duit belanjo yang dilentakan dalam nampan, sebuah ponjen warna kuning
berukuran lebih kecil berisi uang pengiring duit belanjo, 14 ponjen warna
kuning kecil diisi koin-koin logam sebagai pengiring duit belanjo, selembar
selendang songket, baju kurung songket, sebuah ponjen warna kuning berisi
uang'timbang pengantin' 12 nampan berisi aneka macam barang keperluan pesta,
serta kembang setandan yang ditutup kain sulam berenda.

Ada beberapa
ritual yang biasanya dilakukan terhadap calon pengantin wanita yang biasanya
dipercaya berkhasiat untuk kesehatan kecantikan, yaitu betangas. Betangas
adalah mandi uap, kemudian Bebedak setelah betangas, dan berpacar
(berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga
telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit

Menyatukan
sepasang kekasih menjadi suami istri untuk memasuki kehidupan berumah tangga.
Upacara ini dilakukan dirumah calon pengantin pria, seandainya dilakukan
dirumah calon pengantin wanita, maka dikatakan 'kawin numpang'. Akan tetapi
sesuai dengan perkembangan masa, kini upacara akad nikah berlangsung dikediaman
mempelai wanita. Sesuai tradisi bila akad nikah sebelum acara Muggah, maka
utusan pihak wanita terlebih dahulu ngantarke keris ke kediaman pihak pria.
2.9
Ngocek bawang
Ngocek Bawang
diistilahkan untuk melakukan persiapan awal dalam menghadapi hari munggah.
Pemasangan tapup, persiapan bumbu-bumbu masak dan lain sebagainya disiapkan
pada hari ini. Ngocek bawang kecik ini dilakukan dua hari sebelum acara
munggah.
Selanjutnya pada esok
harinya sehari sebelum munggah, dilakukan acara ngocek bawang besak. Seluruh
persiapan berat dan perapian segala persiapan yang belum selesai dikerjakan
pada waktu ini. Daging, ayam dan lain sebagainya disiapkan saat munggah,
mengundang (ngulemi) ke rumah besannya, dan si pihak yang di ulemi pada masa
ngocek bawang wajib datang, biasannya pada masa ini diutus dua orang yaitu
wanita dan pria.
2.10
Munggah
Prosesi ini merupakan
puncak rangkaian acara perkawinan adat Palembang. Hari munggah biasanya
ditetapkan hari libur diantara sesudah hari raya Idul Fitri & Idul
Adha. Pada pagi hari sebelum acara, dari pihak mempelai wanita datang ke
pihak laki-laki (ngulemi) dengan mengutus satu pasang lelaki & wanita.
Selain melibatkan
banyak pihak keluarga kedua mempelai, juga dihadiri para tamu undangan. Munggah
bermakna agar kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang
atau timbang rasa, serasi dan damai. Pelaksanaan Munggah dilakukan dirumah
kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih
dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju kerumah kediaman
keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu
dibentuk formasi yang akan berangkat menuju rumah pengatin wanita. Formasi itu
adalah :

Pengatin
Pria diapit oleh kedua orang tua, dua orang pembawa tombak, seorang pembawa
payung pengantin, didampingi juru bicara, pembawa bunga langsih dan pembawa
ponjen adat serta pembawa hiasan adat dan gegawan.
2.11
Nyanjoi
Nyanjoi dilakukan disaat malam sesudah munggah dan sesudah nyemputi.
Biasannya nyanjoi dilakukan dua kali, yaitu malam pertama yang datang nyanjoi
rombongan muda-mudi, malam kedua orang tua-tua. Demikian juga pada masa sesudah
nyemputi oleh pihak besan lelaki
Dua
hari sesudah munggah biasannya dilakukan acara nyemputi. Pihak pengantin lelaki
datang dengan rombongan menjemputi pengantin untuk berkunjung ketempat mereka,
sedangkan dari pihak wanita sudah siap rombongan untuk nganter ke pengantin.
Pada masa nyemputi penganten ini di rumah pengantin lelaki sudah disiapkan
acara keramaian (perayaan). Perayaan yang dilakukan untuk wanita-wanita
pengantin ini baru dilakukan pada tahun 1960-an, sedangkan sebelumnya tidak
ada.


Pada masa nganter
penganten oleh pihak besan lelaki ini, di rumah besan wanita sudah disiapkan
acara mandi simburan. Mandi simburan ini dilakukan untuk menyambut malam
perkenalan antara pengantin lelaki dengan pengantin wanita. Malam perkenalan
ini merupakan selesainya tugas dari tunggu jeru yaitu wanita yang ditugaskan
untuk mengatur dan memberikan petunjuk cara melaksanakan acara demi acara
disaat pelaksanaan perkawinan. Wanita tunggu jeru ini dapat berfunsi sebagai
penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya selauruh acara perkawinan
yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.
Dalam upacara
perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat domonan, karena hampir
seluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak
lelaki hanya menyiapkan "ponjen uang". Acara yang dilaksanakan oleh
pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran
disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.
BAB
III
Hukum
waris adat sumatera selatan menggunakan system kewarisan mayorat perempuan.
Mayorat
perempuan yaitu harta peninggalan jatuh ke anak perempuan tertua, dimana anak
anak perempuan tertua itu sebagai ahli waris tunggal, lalu ahli waris
bermusyawarah untuk membagikan kepada saudara-saudara yang lainnya seperti di
Dayak Tayan, dan Dayak Sandak.
Sumber:










GILO LE
BalasHapusGILO LE
BalasHapus