Selasa, 01 Januari 2013

moral karakter bangsa



Moral sebagai karakter bangsa
Kondisi moral bangsa Indonesia saat ini sudah mulai menghawatirkan. Banyak para remaja kita yang sebenarnya berfungsi sebagai tiang bangsa sudah mulai melupakan pentingnya moral dan justru malah kondisi moral mereka sudah mulai rusak. Mereka sudah mulai melupakan nilai,norma dan etika yang seharusnya mereka jaga.


Moral dan etika adalah dua hal yang tidak terpisahkan karena pada dasarnya moral adalah tingkah laku yang telah diatur atau ditentukan oleh etika.



 Kerusakan moral bangsa Indonesia bukan semata-mata salah pemerintah yang terlihat tidak memperdulikan masalah itu. Seolah-olah pemerintah hanya terfokus dalam menaikan mutu pendidikan melalui perbaikan-perbaikan standar nilai tidak melihat bagaimana kondisi moral peserta didik. Karena sesungguhnya tidak hanya intelektual saja yang harus dikembangkan namun moral juga harus ikut berkembang. Instansi sekolah seakan-akan hanya sebagai suatu hiasan saja, tidak ada sesuatu yang dihasilkan dari sekolah yang seharusnya sekolah juga turut serta dalam membentuk moral-moral anak didik yang selanjutnya akan menjadi generasi penerus bangsa
Kita tidak bisa menutup mata tentang masalah yang marak terjadi di Negara kita ini. Berita tentang penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar, tawuran mahasiswa, demonstrasi yang berakhir anarkis, bentrok antar suku, ricuh antar kelompok masyarakat, korupsi, suap-menyuap, kecurangan birokrasi, jual beli hukum, dan berbagai tindakan tercela yang sering menjadi headline di media massa saat ini., inilah potret nyata merosotnya karakter bangsa yang mulai tergantikan oleh paradigma-paradigma anarkis dan keserakahan lymbic individualisme (pusat insting hewani manusia). Dan sesungguhnya penyakit ini telah menjangkit ke semua lapisan masyarakat dari segala usia.
Kapan terakhir kali kita membuang sampah pada tempatnya? Kapan terakhir kali kita menyeberang jalan di jembatan penyeberangan? Sudah berapa kali kita berbohong? Kapan terakhir kali kita mengatakan “permisi” di depan kerumunan orang? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sebuah sentilan yang mungkin kita anggap tidak ada substansinya dengan masalah karakter bangsa, namun perhatikanlah, jika kita telah begitu sering membuang sampah sembarangan, tidak menyeberang pada tempatnya, dan berjuta kali melakukan kebohongan, kemudian sangat jarang untuk mengatakan “permisi” di depan kerumunan orang, maka itulah fakta bahwa kita telah hidup dalam paradigma individualism yang menyimpang.(yulia/ika18)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar